TRANSLATE

Translate this page from Indonesian to the following language! English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified Widget edited by Agustiyawan

Peta Kalimantan Timur

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pawai Suku Dayak

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pakaian Adat Banjar

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Tari Hudoq

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pakaian Adat Bugis Kalimantan Timur

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

BLOG FAVORITE

Tampilkan postingan dengan label *ADAT ISTIADAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *ADAT ISTIADAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

Kebiasaan Menginang Pada Masyarakat Kalimantan Timur - Banjar, Kutai, Dayak

::: Agustiyawan :::

KEBIASAAN menginang atau makan sirih sudah dikenal pada masyarakat Indonesia sejak lama. Menurut Soekanto Tirtomijoyo, masyarakat Indonesia mengenal kebiasaan menginang sejak abad 6 Masehi. Pada masyarakat Kalimantan Timur kebiasaan ini dikenal kemudian pada abad 9 hingga 10 Masehi. Kebiasaan ini berkembang cukup pesat pada masyarakat Kalimantan Timur sehingga berdampak lus dalam kehidupan sosial, budaya, religi, dan ekonomi mereka. Selain itu, tempat penginangannya pun mendapat perhatian khusus dari masyarakat, tidak saja dibuat dari logam, akan tetapi juga dari anyaman rotan, kayu manik, dan kayu dilapisi emas menjadi ciri khas tersendiri dari daerah ini.

Kebiasaan Menginang
Pada masyarakat Kalimantan Timur, menginang atau makan sirih biasanya ditempatkan dalam suatu tempat yang khusus. Tempat ini biasanya disebut dengan istilah penginangan. Perlengkapan menginang seperti tempat sirih, tempat tembakau, alat penumbuk kinang, alat pemotong pinang, dan tempat ludah merah atau ludah sirih serta kinangnya ditempatkan dalam satu wadah.
Apabila orang hendak menginang biasanya disediakan kinang yang terdiri atas ramuan pokok dan ramuan pelengkap. Ramuan pokok terdiri dari daun sirih, gambir, kapur sirih, dan buah pinang, sedangkan ramuan pelengkap terdiri dari tembakau, kapulaga, cengkih, kunyit, dan daun jeruk. Ramuan pelengkap ini biasanya tidak sama jenisnya, antara satu orang dengan orang yang lain, ada pula yang menggunakan kinang secara lengkap, tetapi ada juga yang menggunakan sebagian saja, bahkan tidak menggunakan pelengkap sama sekali.
Ramuan yang akan digunakan untuk menginang biasanya dilumatkan dengan dikunyah, tetapi jika gigi tidak ada lagi biasanya ditumbuk. Kinang ini dinikmati dengan mengunyah dan memutar-mutarnya di dalam mulut selama beberapa waktu atau langsung digosok dengan tembakau.
Tembakau yang digunakan untuk membersihkan mulut tidak langsung dibuang, tetapi diputar-putar di dalam mulut dan setelah aromanya hilang baru dibuang, sedangkan tembakau biasanya oleh orang yang menginang diselipkan di sebelah pipi atau antara gigi dan bibir. Kebiasaan makan sirih ini bagi para pecandu memerlukan bahan, waktu, dan perhatian yang besar.

Fungsi Menginang
Fungsi primer menginang sama halnya dengan kebiasaan minum teh, kopi, dan merokok. Pada mulanya setiap orang yang menginang tidak lain untuk penyedap mulut. Kebiasaan ini kemudian berlanjut menjadi kesenangan dan terasa nikmat sehingga sulit untuk dilepaskan.
Kebiasaan menginang di samping untuk kenikmatan juga berfungsi sebagai obat untuk merawat gigi, terutama untuk memakan agar gigi tidak rusak atau berlubang. Fungsi menginang yang lain yaitu, menyangkut tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Hal ini tercermin dari kebiasaan menginang, hidangan penghormatan untuk tamu, sarana penghantar bicara, sebagai mahar perkawinan, alat pengikat dalam pertunangan sebelum nikah, untuk menguji ilmu seseorang, dan sebagai pengobatan tradisional. Bahkan menginang juga digunakan sebagai upacara dan sesaji yang menyangkut adat istiadat serta kepercayaan dan religi.
Pada masyarakat Kalimantan Timur, khususnya suku bangsa Kutai dan Dayak adat istiadat menghidangkan sirih sebagai penghormatan kepada tamu. Tamu yang datang biasanya dijamu dengan sirih terlebih dahulu baru dijamu makan. Peranan sirih dalam masyarakat Kalimantan Timur dapat berfungsi sosial sehingga dapat menghilangkan jejak sosial antara satu dengan lainnya. Kebiasaan menghidangkan sirih dalam kehidupan sosial misanya seperti:

1. Hidangan Penghormatan
Pada masyarakat suku bangsa Dayak menginang tidak hanya menyangkut masalah kebiasaan saja, akan tetapi juga menyangkut tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan, yakni sebagai lambang atau simbol dari solidaritas dan integrasi sosial bagi warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Hal ini tergambar dalam kebiasaan-kebiasaan menginang bersama, hidangan penghormatan untuk tamu, hidanganatau sarana pengantar bicara dan lain-lain. Kebiasaan ini terjadi dalam masyarakat terdahulu hingga sampai saat ini pada masyarakat pedalaman tidak meninggalkan budaya ini dalam kehidupan mereka.

2. Upacara Menyambut Tamu
Pada kerajaan Kutai dikenal upacara adat pangkon, yaitu upacara menyambut tamu kerajaan. Dalam upacara ini ada dua kelompok, yaitu pangkon wanita dan pangkon pria. Pengertian pangkon yaitu dipangku untuk menyambut tamu tersebut ada benda kerajaan yang dipangku sambil duduk bersila. Ada dua kelompok yang duduk memangku benda kerajaan ini yang duduk berhadapan berbaju hitam dan tamu yang datang harus berjalan di tengah. Alat yang dipangku itu antara lain adalah wadah kinang atau penginangan yang terbuat dari perak dan kuningan, ditambah alat lain seperti sumbul, lante, kipas, dan bokor. Pada dewasa ini upacara pangkon atau penyambutan tamu masih berlaku dalam kehidupan masyarakat Kutai, juga dalam upacara perkawinan pangkon ini berfungsi dalam upacara penobatan.

3. Upacara Pertunangan
Sebelum perkawinan ada upacara yang dikenal dengan pertukaran cincin. Bahkan sampai saat ini masyarakat suku bangsa Berau dan Bulungan dalam upacara pertukaran ini masih menggunakan tempat sirih dari pihak wanita menyerahkan kepada pihak pria dan sebaliknya.
Pada saat upacara perkawinannya, sebelum upacara perkawinan dilaksanakan peminangan oleh sekelompok utusan dari pihak pria yang datang ke rumah pihak wanita untuk menyatakan peminangan. Pada saat datang ke rumah pihak wanita inilah, satu di antara sarana yang digunakan untuk meminang adalah tempat sirih yang digunakan sebagai mas kawin. Jelaslah bahwa budaya menginang pada masyarakat Kalimantan Timur mempunyai fungsi sosial dan budaya, baik untuk menyambut tamu, adat perkawinan, maupun untuk upacara daur hidup lainnya. 

Sumber:
Amurwani DL (Asdep Urusan Pemahaman Makna Sejarah dan Integrasi Bangsa/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

MANGKOK MERAH - Dunia Supranatural Suku Dayak

::: Agustiyawan :::

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

 
Mangkok merah adalah mangkok yang sudah di isikan oleh darah binatang seperti darah anjing dan babi dicampur dengan darah manusia, lalu dibaca2kan mantra oleh dukun untuk mendapatkan kekuatan bagi warga suku dayak yang akan berperang

pantak adalah sejenis patung kaya jelangkung untuk menarik roh2 agar melindungi warga yang ingin berperang

ini hanya sekedar sharing yaa.......

UPACARA TIWAH - Acara Adat Suku Dayak


::: Agustiyawan :::
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).




Selasa, 18 Januari 2011

ASAL MULA ERAU (Sejarah dan Budaya Kutai Kartanegara)

::: Agustiyawan :::

Sejarah Erau
Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.


Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.
Pelaksanaan Erau
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
 
Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782.

Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai. 
Mata Acara Erau :
Menjamu BenuaMendirikan Ayu
Kesenian dan Adat Kutai
Menyisikan Lembu Suana dan Tambak Karang
Beluluh
Bekanjar dan Beganjur
Seluang Mudik
Belian, Bekenjong
Dewa Memanah, Besaong Manok, Menjala
Bepelas, Tepong Tawar
Merebahkan Ayu, Beburay, dan Syukuran
Mengulur Naga dan Belimbur
Ziarah ke Makam Aji Imbut (pendiri kota Tenggarong)
Ziarah ke Kutai Lama



Kegiatan Penunjang Erau
yaitu kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan upacara adat Keraton Kutai Kartanegara. Kegiatan tersebut semata-mata sebagai tambahan dalam rangka pelestarian nilai-nilai seni dan budaya baik daerah pada khususnya maupun nasional pada umumnya agar bisa hidup dan berkembang ditengah-tengah perkembangan jaman. Yang termasuk penunjang Erau:

Upacara Pembukaan & Tari Massal
>> Marching Band
>> Pembukaan Erau
>> Penyalaan Brong
>> Sajian Tari MassalUpacara-Upacara Adat Suku Pedalaman
>> Upacara Adat Ngugu Tahun
>> Upacara Adat Penhos
>> Upacara Adat Mamad
>> dan lain-lain
Kesenian
>> Kesenian Tradisional
>> Kesenian Nusantara
>> Kesenian Mancanegara
Olahraga
>> Olahraga Tradisional
>> Olahraga Populer
Pameran Pembangunan & Bazaar
Pertunjukan Hiburan Masyarakat
>> Pawai / Karnaval
>> Marching Band
>> Hiburan Band
>> Show Artis Ibukota
Tata Kehidupan Suku Dayak
>> Perkawinan Suku Dayak
>> Pengobatan Belian
>> Hudoq
>> dan lain-lain  


 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...