TRANSLATE

Translate this page from Indonesian to the following language! English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified Widget edited by Agustiyawan

Peta Kalimantan Timur

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pawai Suku Dayak

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pakaian Adat Banjar

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Tari Hudoq

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pakaian Adat Bugis Kalimantan Timur

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

BLOG FAVORITE

Tampilkan postingan dengan label *KUTAI KARTANEGARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label *KUTAI KARTANEGARA. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Januari 2011

PANORAMA DAN EKSOTISME KUTAI KARTANEGARA


::: Agustiyawan :::

KUTAI KARTANEGARA boleh disebut jantung historis Kalimantan Timur, Kabupaten ini kaya akan beragam peninggalan sejarah. Bahkan kini dinasti kerajaan Kutai sudah bangkit dan kembali eksis serta melanjutkan langkah menyokong pembangunan bangsa. Kabupaten ini juga penuh dinamika pembangunan modern, hingga perjalanan Anda ke kota ini akan sangat berkesan.


TENGGARONG ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, jantung pergerakan dinamika dan pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara. Di kota ini Anda dapat menikmati berbagai kekayaan cultural dan jejak peninggalan masa lalu yang berdampingan dengan kehidupan modern. Untuk oleh-oleh dapat bias diperoleh beragam cenderamata khas di kios-kios khusus yang menjual cenderamata. Antara lain yang istimewa adalah beragam “kain tenun ulap Anda juga bias mengunjungi Museum Mulawarman yang kaya koleksi masa lalu sebagai jejak penting kehadiran Kerajaan Kutai di masa lalu.

PULAU KUMALA. Delta besar di tengah sungai yang kemudian dibangun menjadi tempat hiburan seperti Taman Impian Jaya Ancol dihubungkan dengan dataran besar Pulau Kalimantan via jembatan panjang nan indah, berbagai fasilitas hiburan dan permainan ala Disney Land tersedia, dan ini merupakan satu-satunya di Kalimantan. Pulau ini menjadi tujuan utama wisata masyarakat sekitar, terutama di hari-hari liburan sekolah dan pasca lebaran dan natal.





DANAU SEMAYANG, JEMPANG & MALINTANG. Danau besar yang asik untuk dikunjungi, pemandangan di Danau sangat indah di saat matahari terbit dan tenggelam. Di sini bila disaksikan juga kehidupan asli para nelayan yang tinggal di rumah-rumah terapung. Ketika danau ini terutama Danau Jempang merupakan pemasok penting ikan  tawar ke kota-kota, khususnya Tenggarong. Bila ke Danau Jempang yang berada di daerah Tanjung Isuy, Anda juga bias mengunjungi industry kerajinan kain yang indah dank has, bias juga menyaksikan lamin (rumah panjang) suku Dayak Banuaq.

 Danau Semayang

Danau Jempang
Danau Malintang

AYAN-AYANAN. Menyukai keunikan tradisi? Saat di Tenggarong dan menyaksikan ada pesta pernikahan adat kutai, mampir sajalah. Kalau beruntung Anda bias menyaksikan tradisi ayan-ayanan, permainan yang dilakukan para pengawal pengantin beserta sang pengantin, untuk menghibur dan membantu mempelai agar lebih saling mengenal. Ada kepercayaan, pengantin yang tidur lebih dahulu akan meninggal lebih dahulu pula (maaf ini hanya kepercayaan saja  hidup mati ada ditangan Tuhan), ayan-ayanan yang penuh canda dan lucu ini berlangsung tiga malam berturut-turut.
 
 

Selasa, 18 Januari 2011

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA


Kantor Bupati Kutai Kartanegara Kantor Bupati Kutai Kartanegara
Photo: Agri

::: Agustiyawan :::

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dipimpin oleh seorang Bupati yang saat ini dijabat oleh Prof. Dr. H. Syaukani HR, MM.
Untuk membantu dalam melaksanakan tugas-tugasnya, Bupati Kutai Kartanegara dibantu oleh seorang Wakil Bupati yang dijabat oleh Drs. H. Syamsuri Aspar, MM dan seorang Sekretaris Kabupaten yang saat ini dijabat oleh Drs. H.M. Husni Thamrin, MM. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga membentuk beberapa lembaga pemerintahan untuk membantu menjalankan roda pemerintahan di Kabupaten Kutai Kartanegara, yang terdiri dari 18 Dinas Otonom, 8 Kantor Daerah, 9 Badan Daerah.


Lembaga Pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara:
Dinas Otonom

01. Dinas Kehutanan
02. Dinas Kesehatan
03. Dinas Pariwisata dan Budaya
04. Dinas Pekerjaan Umum
05. Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga
06. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
07. Dinas Pendidikan
08. Dinas Perikanan dan Kelautan
09. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi
10. Dinas Perhubungan
11. Dinas Perkebunan
12. Dinas Pertambangan dan Energi
13. Dinas Pertanahan
14. Dinas Pertanian Tanaman Pangan
15. Dinas Peternakan
16. Dinas Sosial
17. Dinas Tenaga Kerja
18. Dinas Transmigrasi

Kantor Daerah

01. Kantor Arsip Daerah
02. Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian dan Kehutanan
03. Kantor Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman
04. Kantor Pusat Data Teknologi Informasi dan Komunikasi
05. Kantor Pendidikan dan Latihan
06. Kantor Pengelolaan Pasar
07. Kantor Perpustakaan Umum
08. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja


Badan Daerah

01. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
02. Badan Pengawas Daerah
03. Badan Kepegawaian Daerah
04. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah
05. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa
06. Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat
07. Badan Penanaman Modal Daerah
08. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah
09. Badan Pengelola Keuangan Daerah




Alamat Kontak Pemkab Kutai Kartanegara:
Kantor Bupati Kutai Kartanegara
Jl. Wolter Monginsidi No. 1
Tenggarong 75511 - Kaltim
Telepon: +62 541 662088
Fax: +62 541 661690 (Humas & Protokol)

SEJARAH KUTAI KARTANEGARA

Kabupaten Kutai merupakan kelanjutan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Setelah Republik Indonesia berdiri, pada tahun 1947 Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat. 

Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Berdasarkan UU No.27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus dan daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:

1. Kotamadya Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
2. Kotamadya Samarinda dengan ibukota Samarinda
3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong

Pada tahun 1995 Kabupaten Kutai menjadi salah satu Daerah Percontohan Pelaksanaan Otonomi Daerah, berdasarkan PP No.8 Tahun 1995 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan Kepada Daerah Tingkat II Percontohan.

Pada tahun 1999, wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah otonom berdasarkan UU No.47 Th.1999, yakni:

1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota Sendawar
3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta
4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang





Peta Wilayah Kabipaten Kutai Kartanegara
Peta Kabupaten Kutai Kartanegara diantara daerah-daerah hasil pemekaran Kutai: Kab. Kutai Barat, Kab. Kutai Timur, Kota Bontang, Kota Samarinda, dan Kota Balikpapan.

Wilayah Administratif Kabupaten Kutai Kartanegara
Wilayah Bekas Kesultanan Kutai Kartanegara

Istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk membedakan antara Kabupaten Kutai hasil pemekaran dengan Kabupaten Kutai yang lama. Pada Musyawarah Nasional yang pertama APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yang diadakan di Tenggarong pada tahun 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid yang membuka Munas tersebut mengusulkan agar Kabupaten Kutai hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai Kartanegara.

Tanggal 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang "Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara".

KUTAI KARTANEGARA

::: Agustiyawan :::

Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah 27.263,10 km2 dan luas perairan kurang lebih 4.097 km2 yang secara geografis terletak antara 115o26'28" BT - 117o36'43" BT dan 1o28'21" LU - 1o08'06" LS dengan batas administratif sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Malinau
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Kutai Timur dan Selat Makassar
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pasir
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai Barat
Secara administratif, Kabupaten Kutai Kartanegara terbagi dalam 18 wilayah kecamatan dan 225 desa/kelurahan. Dengan pertumbuhan penduduk 4,13% per tahun, penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara mencapai 547.422 jiwa (2005) dengan kepadatan penduduk rata-rata 20,08 jiwa/km2.

Topografi
Topografi wilayah sebagian besar bergelombang sampai berbukit dengan kelerengan landai sampai curam. Daerah dengan kemiringan datar sampai landai terdapat di beberapa bagian yaitu wilayah pantai dan DAS Mahakam. Pada wilayah pedalaman dan perbatasan pada umumnya merupakan kawasan pegunungan dengan ketinggian 500-2000 m dpl.

Jenis Tanah
Jenis-jenis tanah yang terdapat di daerah ini menurut Soil Taxonomi USDA termasuk kedalam golongan Ultisol, Entisol, Histosol, Inceptisol dan Mollisol, sedangkan menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah Podsolik, Alluvbial, Andosol dan Renzina.

Iklim dan Curah Hujan
Karakteristik iklim dalam wilayah Kabupaten Kutai adalam iklim hutan tropika humida dengan perbedaan yang tidak begitu tegas antara musim kemarau dan musim hujan. Curah hujan berkisar antara 2000-4000 mm per tahun dengan temperatur rata-rata 26oC. Perbedaaan temperatur siang dan malam antara 5-7 oC.

Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun 2005 adalah 547.422 jiwa. Dibandingkan dengan luas wilayah maka kepadatan penduduk mencapai rata-rata 20,08 jiwa/km2. Penduduk yang bermukim di wilayah ini terdiri dari penduduk asli (Kutai, Benuaq, Tunjung, Bahau, Modang, Kenyah, Punan dan Kayan) dan penduduk pendatang seperti Jawa, Bugis, Banjar, Madura, Buton, Timor dan lain-lain.
Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang ada. Sungai Mahakam merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi Sungai Mahakam dan cabang-cabangnya.
Daerah-daerah yang agak jauh dari tepi sungai dimana belum terdapat prasarana jalan darat relatif kurang terisi dengan pemukiman penduduk.
Sebagian besar penduduk Kutai Kartanegara tinggal di perdesaan yakni mencapai 75,7% dan 24,3% berada di daerah perkotaan.  Sementara mata pencaharian penduduk sebagian besar di sektor pertanian 38,25%, industri/kerajinan 18,37%, perdagangan 10,59 % dan lain-lain 32,79%.

Batubara Batubara, salah satu sumber daya alam yang cukup melimpah di Kutai Kartanegara
Perekonomian
Struktur ekonomi Kabupaten Kutai Kartanegara selama tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 relatif tidak mengalami pergeseran.
Dua sektor yang sangat dominan dan memegang peranan penting dalam perekonomian Kutai Kartanegara karena memberi sumbangan nilai tambah terbesar adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan sub sektor pertambangan migas dan sub sektor pertanian dengan sub sektor kehutanan.
Pada tahun 1999, peranan sektor pertambangan sebesar 78,22%terutama didukung oleh peranan sub sektor pertambangan migas sebesar 71,08%. Sedangkan sektor pertanian memiliki peranan 11,21% terutama didukung sub sektor kehutanan yang memiliki peranan 7,25%.
Pada tahun 2003, peranan sektor pertambangan dan penggalian mengalami penurunan menjadi 76,12%, hal ini terjadi karena menurunnya peranan sub sektor pertambangan migas yakni 69,96 persen.
Sedangkan sektor pertanian juga mengalami penurunan menjadi 10.69%, terutama didukung peranan sub sektor kehutanan sebesar 6.10%. Sementara itu, di tahun 2002 peranan sektor pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan sebesar 77,67% jika dibanding tahun 2003. sedangkan untuk sektor pertanian mengalami penurunan dari 10,06% dibandingkan tahun 2003.
Bila komoditi minyak dan gas bumi dikeluarkan dari perhitungsn PDRB, maka dampak terhadap nilai PDRB dan distribusinya juga akan berbeda bila dibandingkan dengan perhitungan PDRB dengan migas. Di sini terlihat nyata perbedaan peranan atau kontribusi sektor dalam membentuk struktur perekonomian daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Seperti halnya dengan migas, struktur ekonomi Kabupaten Kutai Kartanegara tanpa migas tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 juga relatif kurang banyak mengalami pergeseran di mana terlihat bahwa tanpa migas sektor pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian Kutai Kartanegara karena memberi sumbangan nilai tambah terbesar.
Pada tahun 1999, sektor pertanian menyumbang sebesar 38,78% dan dalam tahun 2003 menjadi 35,59%. Setelah sektor pertanian diikuti oleh sektor pertambangan dan penggalian non migas; seperti batu bara, emas, perak dan lain-lain sebesar 20,52%. Sektor konstruksi 15,38% dan sektor perdagangan, hotel dan restoran 10,43% di tahun 2003.

PDRB dan Pendapatan Masyarakat
Nilai nominal PDRB Kutai Kartanegara dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 mengalami peningkatan. Angka PDRB pada tahun 1999 sebesar Rp 15,59 triliun meningkat menjadi Rp 27,05 triliun di tahun 2003.
Bila dilihat perkembangan PDRB non-migas atas dasar harga berlaku juga mengalami peningkatan, angka PDRB non-migas tahun 1999 sebesar Rp 4,51 triliun meningkat menjadi Rp 6,12 triliun.
Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan dengan migas maupun non-migas juga menampakkan peningkatan. Pada tahun 1999 PDRB atas dasar harga konstan dengan migas bernilai Rp 6,45 triliun meningkat pada tahun 2003 menjadi Rp 7,72 triliun.
Sedangkan untuk PDRB atas dasar harga konstan non-migas juga mengalami peningkatan, di tahun 1999 sebesar Rp 1,80 triliun menjadi Rp 2,46 triliun tahun 2003.
Sementara itu, di tahun 2003 total PDRB perkapita mengalami peningkatan yang cukup positif hingga mencapai Rp 56,79 juta dengan total pendapatan per kapita juga meningkat sebesar Rp 43,57 juta.
Namun demikian dengan pendapatan perkapita yang relatif tinggi tersebut tidak mutlak menggambarkan bahwa masyarakat Kabupaten Kutai menjadi makmur, karena pendapatan yang diterima tersebut adalah pendapatan bruto disamping masih adanya unsur ketimpangan yang terjadi dalam distribusi pendapatan.

ASAL MULA ERAU (Sejarah dan Budaya Kutai Kartanegara)

::: Agustiyawan :::

Sejarah Erau
Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.


Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.
Pelaksanaan Erau
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
 
Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan. Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782.

Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai. 
Mata Acara Erau :
Menjamu BenuaMendirikan Ayu
Kesenian dan Adat Kutai
Menyisikan Lembu Suana dan Tambak Karang
Beluluh
Bekanjar dan Beganjur
Seluang Mudik
Belian, Bekenjong
Dewa Memanah, Besaong Manok, Menjala
Bepelas, Tepong Tawar
Merebahkan Ayu, Beburay, dan Syukuran
Mengulur Naga dan Belimbur
Ziarah ke Makam Aji Imbut (pendiri kota Tenggarong)
Ziarah ke Kutai Lama



Kegiatan Penunjang Erau
yaitu kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan upacara adat Keraton Kutai Kartanegara. Kegiatan tersebut semata-mata sebagai tambahan dalam rangka pelestarian nilai-nilai seni dan budaya baik daerah pada khususnya maupun nasional pada umumnya agar bisa hidup dan berkembang ditengah-tengah perkembangan jaman. Yang termasuk penunjang Erau:

Upacara Pembukaan & Tari Massal
>> Marching Band
>> Pembukaan Erau
>> Penyalaan Brong
>> Sajian Tari MassalUpacara-Upacara Adat Suku Pedalaman
>> Upacara Adat Ngugu Tahun
>> Upacara Adat Penhos
>> Upacara Adat Mamad
>> dan lain-lain
Kesenian
>> Kesenian Tradisional
>> Kesenian Nusantara
>> Kesenian Mancanegara
Olahraga
>> Olahraga Tradisional
>> Olahraga Populer
Pameran Pembangunan & Bazaar
Pertunjukan Hiburan Masyarakat
>> Pawai / Karnaval
>> Marching Band
>> Hiburan Band
>> Show Artis Ibukota
Tata Kehidupan Suku Dayak
>> Perkawinan Suku Dayak
>> Pengobatan Belian
>> Hudoq
>> dan lain-lain  


 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...