TRANSLATE

Translate this page from Indonesian to the following language! English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified Widget edited by Agustiyawan

Peta Kalimantan Timur

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pawai Suku Dayak

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pakaian Adat Banjar

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Tari Hudoq

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

Pakaian Adat Bugis Kalimantan Timur

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Agustiyawan - Premiumbloggertemplates.com.

BLOG FAVORITE

Senin, 31 Januari 2011

PANORAMA DAN EKSOTISME KUTAI KARTANEGARA


::: Agustiyawan :::

KUTAI KARTANEGARA boleh disebut jantung historis Kalimantan Timur, Kabupaten ini kaya akan beragam peninggalan sejarah. Bahkan kini dinasti kerajaan Kutai sudah bangkit dan kembali eksis serta melanjutkan langkah menyokong pembangunan bangsa. Kabupaten ini juga penuh dinamika pembangunan modern, hingga perjalanan Anda ke kota ini akan sangat berkesan.


TENGGARONG ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, jantung pergerakan dinamika dan pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara. Di kota ini Anda dapat menikmati berbagai kekayaan cultural dan jejak peninggalan masa lalu yang berdampingan dengan kehidupan modern. Untuk oleh-oleh dapat bias diperoleh beragam cenderamata khas di kios-kios khusus yang menjual cenderamata. Antara lain yang istimewa adalah beragam “kain tenun ulap Anda juga bias mengunjungi Museum Mulawarman yang kaya koleksi masa lalu sebagai jejak penting kehadiran Kerajaan Kutai di masa lalu.

PULAU KUMALA. Delta besar di tengah sungai yang kemudian dibangun menjadi tempat hiburan seperti Taman Impian Jaya Ancol dihubungkan dengan dataran besar Pulau Kalimantan via jembatan panjang nan indah, berbagai fasilitas hiburan dan permainan ala Disney Land tersedia, dan ini merupakan satu-satunya di Kalimantan. Pulau ini menjadi tujuan utama wisata masyarakat sekitar, terutama di hari-hari liburan sekolah dan pasca lebaran dan natal.





DANAU SEMAYANG, JEMPANG & MALINTANG. Danau besar yang asik untuk dikunjungi, pemandangan di Danau sangat indah di saat matahari terbit dan tenggelam. Di sini bila disaksikan juga kehidupan asli para nelayan yang tinggal di rumah-rumah terapung. Ketika danau ini terutama Danau Jempang merupakan pemasok penting ikan  tawar ke kota-kota, khususnya Tenggarong. Bila ke Danau Jempang yang berada di daerah Tanjung Isuy, Anda juga bias mengunjungi industry kerajinan kain yang indah dank has, bias juga menyaksikan lamin (rumah panjang) suku Dayak Banuaq.

 Danau Semayang

Danau Jempang
Danau Malintang

AYAN-AYANAN. Menyukai keunikan tradisi? Saat di Tenggarong dan menyaksikan ada pesta pernikahan adat kutai, mampir sajalah. Kalau beruntung Anda bias menyaksikan tradisi ayan-ayanan, permainan yang dilakukan para pengawal pengantin beserta sang pengantin, untuk menghibur dan membantu mempelai agar lebih saling mengenal. Ada kepercayaan, pengantin yang tidur lebih dahulu akan meninggal lebih dahulu pula (maaf ini hanya kepercayaan saja  hidup mati ada ditangan Tuhan), ayan-ayanan yang penuh canda dan lucu ini berlangsung tiga malam berturut-turut.
 
 

Senin, 24 Januari 2011

Kebiasaan Menginang Pada Masyarakat Kalimantan Timur - Banjar, Kutai, Dayak

::: Agustiyawan :::

KEBIASAAN menginang atau makan sirih sudah dikenal pada masyarakat Indonesia sejak lama. Menurut Soekanto Tirtomijoyo, masyarakat Indonesia mengenal kebiasaan menginang sejak abad 6 Masehi. Pada masyarakat Kalimantan Timur kebiasaan ini dikenal kemudian pada abad 9 hingga 10 Masehi. Kebiasaan ini berkembang cukup pesat pada masyarakat Kalimantan Timur sehingga berdampak lus dalam kehidupan sosial, budaya, religi, dan ekonomi mereka. Selain itu, tempat penginangannya pun mendapat perhatian khusus dari masyarakat, tidak saja dibuat dari logam, akan tetapi juga dari anyaman rotan, kayu manik, dan kayu dilapisi emas menjadi ciri khas tersendiri dari daerah ini.

Kebiasaan Menginang
Pada masyarakat Kalimantan Timur, menginang atau makan sirih biasanya ditempatkan dalam suatu tempat yang khusus. Tempat ini biasanya disebut dengan istilah penginangan. Perlengkapan menginang seperti tempat sirih, tempat tembakau, alat penumbuk kinang, alat pemotong pinang, dan tempat ludah merah atau ludah sirih serta kinangnya ditempatkan dalam satu wadah.
Apabila orang hendak menginang biasanya disediakan kinang yang terdiri atas ramuan pokok dan ramuan pelengkap. Ramuan pokok terdiri dari daun sirih, gambir, kapur sirih, dan buah pinang, sedangkan ramuan pelengkap terdiri dari tembakau, kapulaga, cengkih, kunyit, dan daun jeruk. Ramuan pelengkap ini biasanya tidak sama jenisnya, antara satu orang dengan orang yang lain, ada pula yang menggunakan kinang secara lengkap, tetapi ada juga yang menggunakan sebagian saja, bahkan tidak menggunakan pelengkap sama sekali.
Ramuan yang akan digunakan untuk menginang biasanya dilumatkan dengan dikunyah, tetapi jika gigi tidak ada lagi biasanya ditumbuk. Kinang ini dinikmati dengan mengunyah dan memutar-mutarnya di dalam mulut selama beberapa waktu atau langsung digosok dengan tembakau.
Tembakau yang digunakan untuk membersihkan mulut tidak langsung dibuang, tetapi diputar-putar di dalam mulut dan setelah aromanya hilang baru dibuang, sedangkan tembakau biasanya oleh orang yang menginang diselipkan di sebelah pipi atau antara gigi dan bibir. Kebiasaan makan sirih ini bagi para pecandu memerlukan bahan, waktu, dan perhatian yang besar.

Fungsi Menginang
Fungsi primer menginang sama halnya dengan kebiasaan minum teh, kopi, dan merokok. Pada mulanya setiap orang yang menginang tidak lain untuk penyedap mulut. Kebiasaan ini kemudian berlanjut menjadi kesenangan dan terasa nikmat sehingga sulit untuk dilepaskan.
Kebiasaan menginang di samping untuk kenikmatan juga berfungsi sebagai obat untuk merawat gigi, terutama untuk memakan agar gigi tidak rusak atau berlubang. Fungsi menginang yang lain yaitu, menyangkut tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Hal ini tercermin dari kebiasaan menginang, hidangan penghormatan untuk tamu, sarana penghantar bicara, sebagai mahar perkawinan, alat pengikat dalam pertunangan sebelum nikah, untuk menguji ilmu seseorang, dan sebagai pengobatan tradisional. Bahkan menginang juga digunakan sebagai upacara dan sesaji yang menyangkut adat istiadat serta kepercayaan dan religi.
Pada masyarakat Kalimantan Timur, khususnya suku bangsa Kutai dan Dayak adat istiadat menghidangkan sirih sebagai penghormatan kepada tamu. Tamu yang datang biasanya dijamu dengan sirih terlebih dahulu baru dijamu makan. Peranan sirih dalam masyarakat Kalimantan Timur dapat berfungsi sosial sehingga dapat menghilangkan jejak sosial antara satu dengan lainnya. Kebiasaan menghidangkan sirih dalam kehidupan sosial misanya seperti:

1. Hidangan Penghormatan
Pada masyarakat suku bangsa Dayak menginang tidak hanya menyangkut masalah kebiasaan saja, akan tetapi juga menyangkut tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan, yakni sebagai lambang atau simbol dari solidaritas dan integrasi sosial bagi warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Hal ini tergambar dalam kebiasaan-kebiasaan menginang bersama, hidangan penghormatan untuk tamu, hidanganatau sarana pengantar bicara dan lain-lain. Kebiasaan ini terjadi dalam masyarakat terdahulu hingga sampai saat ini pada masyarakat pedalaman tidak meninggalkan budaya ini dalam kehidupan mereka.

2. Upacara Menyambut Tamu
Pada kerajaan Kutai dikenal upacara adat pangkon, yaitu upacara menyambut tamu kerajaan. Dalam upacara ini ada dua kelompok, yaitu pangkon wanita dan pangkon pria. Pengertian pangkon yaitu dipangku untuk menyambut tamu tersebut ada benda kerajaan yang dipangku sambil duduk bersila. Ada dua kelompok yang duduk memangku benda kerajaan ini yang duduk berhadapan berbaju hitam dan tamu yang datang harus berjalan di tengah. Alat yang dipangku itu antara lain adalah wadah kinang atau penginangan yang terbuat dari perak dan kuningan, ditambah alat lain seperti sumbul, lante, kipas, dan bokor. Pada dewasa ini upacara pangkon atau penyambutan tamu masih berlaku dalam kehidupan masyarakat Kutai, juga dalam upacara perkawinan pangkon ini berfungsi dalam upacara penobatan.

3. Upacara Pertunangan
Sebelum perkawinan ada upacara yang dikenal dengan pertukaran cincin. Bahkan sampai saat ini masyarakat suku bangsa Berau dan Bulungan dalam upacara pertukaran ini masih menggunakan tempat sirih dari pihak wanita menyerahkan kepada pihak pria dan sebaliknya.
Pada saat upacara perkawinannya, sebelum upacara perkawinan dilaksanakan peminangan oleh sekelompok utusan dari pihak pria yang datang ke rumah pihak wanita untuk menyatakan peminangan. Pada saat datang ke rumah pihak wanita inilah, satu di antara sarana yang digunakan untuk meminang adalah tempat sirih yang digunakan sebagai mas kawin. Jelaslah bahwa budaya menginang pada masyarakat Kalimantan Timur mempunyai fungsi sosial dan budaya, baik untuk menyambut tamu, adat perkawinan, maupun untuk upacara daur hidup lainnya. 

Sumber:
Amurwani DL (Asdep Urusan Pemahaman Makna Sejarah dan Integrasi Bangsa/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

MANGKOK MERAH - Dunia Supranatural Suku Dayak

::: Agustiyawan :::

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” ( Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

 
Mangkok merah adalah mangkok yang sudah di isikan oleh darah binatang seperti darah anjing dan babi dicampur dengan darah manusia, lalu dibaca2kan mantra oleh dukun untuk mendapatkan kekuatan bagi warga suku dayak yang akan berperang

pantak adalah sejenis patung kaya jelangkung untuk menarik roh2 agar melindungi warga yang ingin berperang

ini hanya sekedar sharing yaa.......

UPACARA TIWAH - Acara Adat Suku Dayak


::: Agustiyawan :::
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).




Minggu, 23 Januari 2011

PANORAMA DAN EKSOTISME KOTA BALIKPAPAN


::: Agustiyawan :::

Kapal berseliweran di laut biru. Tak begitu lama kemudian, terlihat bukit dan lembah hijau terbelah sungai-sungai besar. Panorama eksotis itu terlihat beberapa saat sebelum pesawat yang saya tumpangi terbang di atas Kota Internasional Balikpapan. Tapi alam Kalimantan itu memang penuh pesona.
Balikpapan sekarang tentu berbeda dari tahun 1980-an, kali terakhir saya ke sana. Bandara Internasional Sepinggan yang besar, megah, dan bernuansa budaya lokal itu dulunya kawasan dekat pantai. Desain bandaranya yang mengadopsi bangunan Joglo Dayak dengan segala ornamennya sunguh memesona.

Kalau dicermati, sebenarnya kondisi geografis Balikpapan tak jauh berbeda dengan Kota Semarang: kota pantai berbukit-bukit. Perbedaannya mungkin pada beberapa rumah penduduk di pinggiran kota atau daerah permukiman. Di situ, masih banyak orang yang menggunakan kayu ulin untuk membuat rumah-rumah panggung.

 
Hari-hari pertama di Balikpapan, tentu saya berbahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang-orang. Bahasa Jawa hanya saya gunakan di rumah tante saya. Namun begitu menyusuri sudut-sudut kota, saya menjumpai orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Mereka adalah para pedagang, penjaga toko, sopir angkuta, dan banyak orang lainnya. Walhasil, saya jadi lebih sering menggunakan bahasa tersebut.

Benarlah, sebagian besar penduduk Balikpapan adalah kaum boro. Mereka adalah orang luar yang datang untuk bekerja dan akhirnya menetap di sana. Sebagian besar datang dari Jawa. Setelah berpuluh-puluh tahun berinteraksi terjadilah akulturasi budaya. Masing-masing penduduk tidak merupakan akar asal. Inilah yang membuat warga Balikpapan unik. Sebab mereka jadi menguasai berbagai bahasa. Paling tidak tiga bahasa utama, yakni Indonesia, Banjar, dan Jawa.

Daya pikat Balikpapan memang begitu besar, terutama bagi para pencari kerja. Peluang kerja masih besar dan begitu pula pendapatan rata-rata penduduknya. Soal biaya hidup, tak jauh berbeda dari Semarang

Yang tak kalah menarik dan membuat nyaman adalah penataan kawasan pantai di kota tersebut. Kota Semarang mungkin harus meniru model penataannya. Sebab, kawasan pantai di Balikpapan merupakan tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Saat saya mengunjungi Klandasan (pasar baru), terlihat kawasan pantai yang tertata apik dan antirob. Tidak kita jumpai genangan ketika dan setelah hujan turun.

Di sepanjang jalan itu, berderet pertokoan dan pusat perbelanjaan. Beberapa puluh meter di belakang toko, terlihat pantai nan indah. Kawasan itu dilengkapi dermaga-dermaga sandar kapal kecil yang memanjang. Di sana, orang-orang bisa menikmati keindahan pantai. Hak publik atas kawasan pantai pun tidak terampas. Kawasan itu juga dilengkapi dengan berbagai tempat bernaung, rumah makan yang menyajikan seafood, pusat penjualan ikan hias, dan suvenir khas pesisir.

Ya, itulah sisi lain wajah kota yang membuat kaum boro merasakannya sebagai surga dan akhirnya enggan meninggalkan Balikpapan. Inilah mungkin yang tidak dimiliki dan harus ditiru Semarang yang bercita-cita menjadi kota jasa dan kota kunjungan wisata.

Ada anggapan bahwa kita belum ke Kalimantan kalau tidak merasakan kelezatan penganan unik khas setempat. Salah satu penganan unik yang dapat kita nikmati adalah sanggar.

Sebenarnya, penganan itu biasa kita jumpai di Jawa. Kita biasa menyebutnya gorengan. Tentu saja ada pisang goreng, bakwan, atau mendoan. Namun ada perbedaan jelas dalam cara menikmatinya. Warga Balikpapan, sebagaimana penduduk kota-kota lain di Kalimantan, selalu menikmati gorengan itu dengan sambal. Sambalnya bermacam-macam. Ada sambal kacang yang mirip bumbu pecel. Ada juga sambal cair yang mirip sambal rujak.

 Saat belum mencoba, tentu kita akan merasa aneh jika harus menikmati hidangan pisang goreng dengan sambal rujak. Setelah mencoba, yakinlah, lidah kita pasti enggan untuk berhenti bergoyang. Perpaduan rasa yang semula agak aneh bagi saya, lama-lama terasa nikmat.

Pagi itu pun perut sudah terisi penuh dengan sanggar, yang cukup memberikan energi bagi saya untuk ”menyusuri” Balikpapan. Satu lagi yang tak bakal bisa kita lupakan di Kalimantan tak lain adalah durian. Ya, pulau itu memang memiliki berbagai varietas durian. Durian lay, salah satunya.

Saya pergi ke Bukit Soeharto di jalur menuju Samarinda. Jaraknya cukup jauh sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Balikpapan. Dengan menumpang angkutan kota bertarif Rp 10 ribu, saya pun berangkat menyusuri jalan panjang di tengah hutan tersebut.

Di sepanjang jalan ke tempat tujuan berderet kios penjual buah yang menawarkan durian lay dan salak pondoh. Salak pondoh? Tentu saja ada di sana. Pasalnya, di sepanjang jalur tersebut penduduk setempat membuka hutan dan mengembangkan menjadi beberapa jenis perkebunan. Tentu saja, kelapa sawit, pisang, dan tak ketinggalan salak pondoh.

Saya turun dan menyambangi kios-kios tersebut. Namun kali ini saya agak kurang beruntung. Sebab, saat itu sudah memasuki akhir musim durian. Walhasil, saya hanya bisa beroleh durian lay yang harganya telah menjadi dua kali lipat dari harga semula. Jika sedang musim, sebuah hanya Rp 5.000. Meski begitu, ketika sudah mulai menyantap daging buahnya, harga yang mahal mesti dilupakan. Durian itu beraroma kuat dan berdaging buah warna kuning pekat. Sangat merangsang selera. Dan ketika di lidah, rasanya manis, gurih, dan legit.

Ah sayang sekali, mengapa buah itu tak sampai ke Jawa? Mengapa kita harus mengimpor si montong dari Thailand? Padahal, durian Kalimantan tidak kalah kualitas dari produksi Negeri Gajah Putih.

Buaya-buaya Borneo Life

Pengembangan Kota Balikpapan bagaimanapun mesti diimbangi pemerintah setempat dengan penjagaan keseimbangan alam. Alih fungsi lahan hutan dan rawa yang terjadi begitu cepat, tentu juga akan menggusur khazanah flora dan fauna yang menjadi kekayaan asli Balikpapan (selain minyak dan batubara tentu saja).

Hilangnya rawa-rawa dan berbagai pohon besar sudah mulai tampak di sana. Dulu, tahun1980-an, masih mudah kita jumpai pohon-pohon besar dengan garis tengah 4-5 meter yang lurus menjulang tinggi. Namun kini, aneka pohon raksasa itu sudah hilang dan sulit kita dapati lagi. Begitu pula dengan rawa-rawa yang dihuni buaya.

Inilah yang rupanya mendorong pemerintah kota berupaya menyelamatkan dan mengembangkan kembali kawasan-kawasan hijau dan pusat-pusat penyelamatan satwa.

Jika kita menyusuri Balikpapan ke arah Kota Samarinda melalui Jl Soekarno-Hatta, bakal kita jumpai taman nasinal baru atau tempat-tempat yang menjadi sabuk hijau. Sebut saja pusat pendidikan lingkungan Balikpapan di Jalan Soekarno-Hatta Km 22, pusat penyelamatan orang utan di Km 35, dan Pusat Penelitian Benih Samboja (dikelola Dephut) di Km 38 yang memiliki luas 3.000 hektare.

Salah satu pusat penyelamatan satwa yang menarik tentu Borneo Life. Pusat penangkaran buaya itu memiliki ratusan buaya, mulai dari telur, anak buaya, buaya, remaja, hingga buaya dewasa yang memiliki panjang 3-4 meter.

Buaya-buaya itu merupakan hasil tangkapan dari alam dan hasil pengembangbiakan indukan di tempat tersebut. Biasanya, buaya-buaya itu akan bertelur di darat. Telur-telur itulah yang kemudian ditetaskan. Anak-anak buaya itu pun dipisahkan dari indukan dan dibesarkan di tempat tersendiri. Inilah yang membuat populasi buaya di Borneo Life bertambah dengan cepat. Sebab, peluang hidup buaya menjadi semakin besar dibandingkan kalau hidup di alam bebas.

Terdapat dua jenis buaya di tempat tersebut, yakni buaya supit (buaya muara) yang kita kenal dengan sebutan aligator serta buaya air tawar yang dikenal dengan sebutan crocodile. Perbedaan keduanya mudah dikenali dari moncong dan ukuran tubuhnya. Moncong buaya supit lebih kecil dan memanjang. Tubuh buaya itu pun relatif kecil. Sementara buaya air tawar memiliki mulut segitiga yang lebih lebar. Ukuran tubuhnya pun sangat besar. Buaya-buaya itu ditempatkan di kolam yang berbeda-beda, sesuai dengan jenis, dan usianya.

Selain berupaya menyelamatkan, Borneo Life juga mengomersialisasikan buaya-buaya itu. Mereka mendapat dana untuk penangkaran dari tiket masuk pengunjung Rp 10 ribu per orang dan hasil dari penjualan buaya itu sendiri. Memang buaya yang dianggap sudah siap dan besar, mereka potong untuk diambil kulit, tulang, dan dagingnya.

Karena itu, di tempat yang selalu ramai dikunjungi warga setempat atau pun pelancong dari kota lain itu, kita bisa membeli berbagai suvenir seperti kulit buaya. Kita juga bisa mendapatkan tangkur binatang melata yang konon dapat meningkatkan vitalitas kaum lelaki. Ingin lebih ekstrem lagi? Coba saja sate daging buaya yang ditawarkan pengelola kepada para pengunjung.

Memang memanfaatkan potensi dengan cara menciptakan keseimbangan inilah yang akan membuat kita tetap memiliki kekayaan flora-fauna hingga akhir masa. Kita pun tak akan dituntut oleh anak cucu karena menghabiskan kekayaan alam yang sebenarnya titipan dan hak mereka.

MEMANDANG BUDAYA DAN PENDUDUK KALIMANTAN TIMUR





::: Agustiyawan :::

KALTIM dibangun melalui persentuhan, penyesuaian, dan bahkan peleburan antarbudaya. Sejarah migrasi manusia di Kaltim memperlihatkan betapa persentuhan antarbudaya telah terjadi sejak lama.

CATATAN sejarah menyebutkan, pada 1 juta tahun sebelum masehi (SM) hingga 8.000 SM sudah ada gelombang manusia memasuki Pulau Kalimantan. Kelompok ini terdiri dari ras Australoid (ras manusia pre-historis yang berasal dari Afrika). Ini merupakan migrasi gelombang pertama kaum pendatang ke Pulau Kalimantan. Australoid adalah nama ras manusia yang mendiami bagian selatan India, Sri Lanka, beberapa kelompok di Asia Tenggara, Papua, Kepulauan Melanesia dan Australia. Untuk kelompok di Asia Tenggara, orang Asli di Malaysia dan orang Negrito di Filipina termasuk ras ini
Memasuki era tahun 38.000 SM - 18.000 SM, pada masa Preneolitikum, datang lagi ke Pulau Kalimantan kelompok suku semi nomaden (tergolong manusia modern, homo sapiens ras mongoloid). Penggalian arkeologis di Niah (Serawak), Madai dan Baturong (sabah) membuktikan bahwa kelompok ini sudah menggunakan alat-alat dari batu, hidup berburu dan mengumpulkan hasil hutan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga sudah mengenal teknologi api.

Gelombang migrasi ketiga terjadi sekitar 4.800 SM ketika orang-orang ras mongoloid dari daratan Asia datang dan bermukim di Pulau Kalimantan. Pendatang baru ini sudah jauh lebih tertata hidupnya dan sudah pula membangun berbagai pola hidup sehari-hari, antara lain sudah menetap dalam suatu komunitas rumah bersama/komunal, dan sudah pula mengenal teknik pertaqnian lahan kering (berladang). Di dalam perkembangan pengetahuan dan kebudayaan ini tentu saja tersemat pula pengetahuanmengenai bibit tanaman yang dibutuhkan sehari-hari serta teknik-teknik arsitektur.

Gelombang migrasi ke Pulau Kalimantan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya (bahkan hingga abad ke-21 sekarag ini). Konflik antar kerajaan di wilayah-wilayah sekitar pulau Kalimantan, petualangan untuk membuka kemungkinan meraih harapan hidup yang lebih baik di seberang lautan, ditemukannya ladang-ladang minyak, transmigrasi, karena dorongan perdagangan, dan perpindahan penduduk secara profesional dalam tahapan waktu yang berbeda-beda menjadikan Pulau Kalimantan sebagai wilayah yang heterogen. Kedatangan pendatang yang bergelombang ini juga menjadi akar untuk memahami mengapa suku-suku dayak memiliki begitu banyak varian dalam unsur-unsur budayanya, mulai dari bahasa, kesenian, tradisi ritual, hingga pandangan hidup.

Kaltim sebagai bagian dari Pulau Kalimantan juga mengalami proses seperti itu. Sejarah telah mencatat migrasi orang-orang Tionghoa dari kampung halamannya di daratan Cina karena konflik dan paceklik berkepanjangan, selain untuk perdagangan (karena bangsa Tionghoa sudah melakukan perdagangan ke Asia dan Afrika sejak lama). Konflik di daerah asal juga yang mengantarkan penduduk Sulawesi Selatan memilih menetap di Kaltim. Kebutuhan akan tenaga untuk eksploitasi kayu dan sumber daya alam dari fosil membuka lagi pintu Kaltim bagi berbagai etnis di Tanah Air untuk datang, bekerja, dan menetap.

Sejarah beberapa kota yang memperlihatkan kontribusi pendatang dalam dinamika kehidupan di Kaltim, disisi lain, kajian mengenai ini juga sudah banyak dilakukan, ada suku-suku Dayak yang tidak berterima dengan pola hidup "baru" sebagai buah dari proses heterogenitas, mereka memilih menghindar ke pedalamamn atau daerah yang masih belum di huni. Ini adalah pilihan hidup yang kini terbukti menjadi bagian terkuat dari kebertahaanan tradisi banyak suku Dayak.

Saat ini komposisi penduduk Kaltim berdasarkan 'jejak' etnisnya adalah Jawa (29,55%), Bugis (18,26%), Banjar (13,94%), Dayak (9.91%), Kutai (9,21%), dan suku batak, sunda, padang, Aceh, Manado, Ambon, dan lainnya.

PANORAMA DAN EKSOTISME KOTA SAMARINDA

 Jembatan Mahakam 1

::: Agustiyawan :::
Samarinda adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan salah satu dari dua kota terbesar di Provinsi ini (disamping Balikpapan). Kota yang dibelah Sungai Karang Mumus dan Great River Mahakam ini penuh gairah dengan berbagai aktifitas. Berbagai fasilitas tersedia. Banyak tempat menarik bisa dikunjungi dan ini akan memberi anda pengalaman tak terlupakan.

What to see 
Banyak tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi penyuka keindahan alam bisa langsung menuju Kebun Raya Samarinda yang elok dan kaya tanaman tropis, atau Air Terjun Lempake Tanah Merah yang disetiap deburannya benar-benar mendebarkan. Atau bila ingin yang lebih khas, bisa melangkah ke perkampungan Dayak. Semua tempat dapat dijangkau dalam tempo singkat.

Kebun Raya Samarinda
 Air Terjun Tanah Merah Lempake


Shopping
Samarinda merupakan surga bagi orang-orang yang menyukai shopping banyak tempat-tempat perbelanjaan dengan harga terjangkau seperti Mal SCP (Samarinda Central Plaza), Mal Lembuswana, Plaza Mulia (PM), Plaza Mesra Indah, Pasar Tradisional Citra Niaga Dll. Jangan lupa kalau lagi liburan ke samarinda bawa oleh-oleh krupuk kecil-kecil sebesar jempol nan lezat yang disebut Kuku Macan, dan kain tenun Samarinda. Itu 2 oleh-oleh cendramata, kuku macan bisa dibeli di kios-kios pedagang di sepanjang tepian Sungai Mahakam juga di pasar-pasar dan Mal.

 SCP (Samarinda Central Plaza)

Mal Lembuswana

Where to say
Tidak perlu bingung bila ingin liburan di Kota Samarinda hotel-hotel berbintang tersedia kalau kocek terbatas hotel kelas melati pun mudah ditemukan. Bila ingin efektif di bandara sepinggan, begitu anda menjejakan kaki di bumi kaltim informasi mengenai hotel-hotel tersedia. Tapi bila suka sedikit petualang anda bisa naik taksi saja ke pusat Kota Samarinda dan anda bisa memilih sendiri tempat menginap yang disukai selama di Samarinda.

Hotel Grand Senyiur Samarinda

Hotel Borneo

Hotel Mesra

MESJID ISLAMIC CENTER
Mesjid besar nan megah di Jl. Slamet Riyadi dan menghadap ke Sungai Mahakam, arsitekturnya diilhami Masjid Nabawi di Madinah yang indah. Mesjid ini memiliki satu menara yang menjulang tinggi mencapai 99 meter (simbolisasi Asmaul Husna atau 99 nama Allah) dan enam menara lain yang lebih rendah. Mesjid ini mampu menampung 43.000 jamaah berbagai perayaan umat islam kini selalu disentralkan di mesjid ini

Masjid Islamic Center

MASJID RAYA DARUSSALAM
Masjid ini merupakan masjid simbolis kota samarinda, masjid yang berdiri dipinggir sungai mahakam, mesjid yang didirikan oleh beberapa ulama besar kota samarinda merupakan mesjid terlama yang ada di kota samarinda

Masjid Raya Darussalam Samarinda

Sport And Jogging
Jika anda suka dengan olahraga banyak tempat-tempat sport yang ada di kota Samarinda, anda bisa langsung datang Gor Stadion Segiri anda bisa jogging ringan di Balai Kota Samarinda, atau anda bisa ke GOR MADYA Sempaja,,,,Jika ingin santai bisa menuju ke GOR UTAMA STADION PALARAN

Stadion Utama Kaltim Palaran

Stadion Palaran Malam Hari

Stadion Segiri

Stadion Sempaja


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...